~My name is Khan (I’m not a terroris)

Jangan membayangkan bahwa di film ini kita akan mendengar dan melihat tari-tarian India seperti film India pada umumnya. Film yang dibintangi oleh Shahrukh Khan ini sangatlah berbobot, meskipun diusut oleh Sutradara Karan Johar yang sukses dengan film-film sebelumnya seperti Dilwale Dulhaniya Le Jayenge (1995), Kuch Kuch Hota Hai (1998) dan Kabhi Kushi Kabhie Gham (2001) yang semuanya bercerita tentang keluarga. Pada film My Name is Khan ini, Karan Johar kembali memasangkan Shahrukh Khan dengan Kajol, duet emas film India

My Name is Khan berkisah tentang seorang anak muslim penderita Asperger Syndrome, salah satu jenis autisma. Rizwan Khan, nama anak itu dibesarkan seorang diri oleh ibunya (Zarina Wahab) di Borivali, Mumbai. Sang ibu berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri Rizwan (diperankan oleh bintang Slumdog Millionaire Tanay Chheda). Rizwan pun memahami kebaikan secara universal, tidak bergantung pada agama.

Meski punya keterbatasan, Rizwan tumbuh dengan kecerdasannya sendiri. Ketika dewasa (diperankan oleh Shahrukh Khan) dia pindah ke San Fransisco mengikuti adik dan iparnya. Saat berusaha mencari nafkah, Rizwan jatuh cinta pada seorang ibu satu anak, Mandira (Kajol). Mandira menerimanya, meskipun Rizwan punya keterbatasan. Mereka menikah sekalipun keluarga Mandira menentangnya karena Mandira seorang Hindu.

Pernikahan mereka awalnya berjalan mulus, tetapi peristiwa 9/11 membuat pasangan ini mengalami tekanan, karena keluarga muslim seperti Khan dicurigai punya jejaring dengan teroris. Puncaknya saat anak Mandira, tewas dikeroyok. Mandiri syok, dan meminta Rizwan pergi. Dan Rizwan boleh kembali jika dia memberi tahu pada orang senegara bahwa dia bukan seorang teroris.

Disinilah Rizwan menempuh perjalanan panjang melintasi negara-negara bagian AS, demi bertemu dengan presiden untuk mengatakan pada dunia bahwa namanya Khan dan dia bukan teroris. Perjalanan panjang inilah yang menyentuh banyak orang dan membuat para kaum minoritas di AS berani mengangkat wajah dan mengatakan: Saya bukan teroris.

Film ini tidak berpihak kepada siapapun, sang sutradara Karan Johar hanya ingin memasukkan nilai-nilai perdamaian di film ini. Bahwa seorang terorisme tidak punya agama dan tidak akan pernah jadi agama.

Bagaimana menariknya??? ayo kita buktikan…

~ by deembem on February 20, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: