Pesan Terakhirmu: Cinta

~aku suka banget baca,,apapun itu.so akhirnya aku buat sebuah folder yg isinya cerita2 baik fiksi ato dongeng ato apapun yg menurut aku bagus..tapi maaf aku blom bisa buat cerita sendiri…slalu ada ide tapi susah banget ngungkapinnya dalam sebuah tulisan..entah karena ga bakat atau memang malas…hum gag tau deh…..

satu cerita yang didedikasikan pada korban gempa..berdasarkan kisah nyata..by.chie from http://www.kemudian.com

Pesan Terakhirmu: Cinta

Kegelapan sungguh menakutkan, dan sepi terlalu menyesakkan… Di sini. Bahkan sekalipun ini aku—eksistensi yang baru menjejak jalan kehidupan sejauh beberapa jengkal langkah kaki-kaki kecilku—aku mengenal horor ini seolah aku sempat melewatinya dalam perjalananku menuju kesini beberapa waktu lalu. Aroma menyengat itu beterbangan menghimpit sisa-sisa udara yang tersisa, datang dengan diiringi gaung bisikan sedingin es. Mengulurkan tangan. …ini adalah milik kematian.

Aku bahkan tak ingat kenapa aku berada di sini. Sangat terang, sebelumnya. Juga hangat. Aku berada dalam pelukan wanita ini, yang tengah bersenandung sambil membelaiku lembut. Rasanya sangat tenang, juga lelah. Aku pun memejamkan mata, bersiap untuk bertemu dengannya lagi dalam mimpi… Kemudian guncangan itu datang. Hal yang terakhir kudengar adalah jeritan wanita itu, sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Lalu aroma serta bisikkan-bisikkan yang kubenci itu menyergap, merambat pelan, menghampiri kami dan tak terlihat dalam gelap. Kupikir… satu-satunya hal yang menghalangi mereka untuk meraih diriku adalah karena keberadaan wanita ini, yang masih kurasakan begitu dekat. Sebelah tangannya kokoh berdiri di sisi wajahku. Napasnya yang tersendat masih sehangat sebelumnya. Sesekali jemarinya yang gemetar mengelus pipiku, dan aku pun tahu bahaya takkan mampu menyentuhku. Tidak selama wanita ini tidak membiarkannya. Entah sampai kapan kegelapan ini akan menyimpan kami di dalamnya. Aku pun tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Tapi wanita ini tak pernah berubah. Tangannya yang membelaiku, napasnya yang memberi kehidupan, dan suaranya yang menenangkanku. Selama dia masih ada bersamaku, aku tidak perlu takut… Tapi kemudian dia terbatuk.

Kurasakan tubuhnya bergetar lebih hebat dari sebelumnya, dan dia tersengal mengambil napas yang entah mengapa lebih sulit dari yang sudah-sudah. Tetes cairan dingin jatuh membasahi hidungku—berbau amis hampir serupa dengan aroma yang melingkupi kegelapan tempat kami berada. Aku mulai merengek, mencemaskannya. Kemudian kurasakan sebelah tangannya meraih sesuatu, mencari-cari di dalam kegelapan… Dan dia menemukannya, benda itu. Benda yang kemudian berpendar dengan sinarnya yang redup, namun bagaikan sebatang lilin di tengah lautan kegelapan di bawah reruntuhan… Wanita itu terpekur padanya sejenak, kemudian dia berpaling, tersenyum memandangku. Perlahan, dapat kulihat wajahnya dengan jelas. Itu, mungkin adalah pertama kalinya aku melihat senyumannya dari sudut pandang itu. Ataukah mungkin terlalu lama berada di bawah kegelapan telah membuatku lupa akan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh tiap-tiap senyuman darinya? Kurasa, mungkin inilah senyuman terindahnya dari semua yang pernah diberikannya padaku… “Tak apa,” katanya dengan suara lemah bergetar, meraih tangan kecilku lalu menggenggamnya. “…akan baik-baik saja…” Tak lama kemudian, cahaya dari benda itu meredup. Dan pegangan wanita itu mengendur. Aku tahu jemarinya mendingin…

Tiba-tiba saja kegelapan menjadi jauh lebih menakutkan. Suara napasnya, hangat tubuhnya, dan yang lebih lagi—detak jantungnya, perlahan menghilang. Kegelapan melolong, dan gaungnya menyelimutiku dengan beku yang tak tertahankan. Tidak, batinku. Jangan tinggalkan aku…! Kumohon jangan tinggalkan aku…! Aku menjulurkan tangan hendak meraihnya, dan aku dapat meraihnya! Tapi kenapa dia begitu dingin dan diam…? Seketika itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sekeras-kerasnya. Berharap dia hanya tertidur, dan tangisanku akan membangunkannya seperti biasa. Tapi dia tidak kunjung terbangun. Tidak. Alih-alih itu, terdengar suapa geseran dan benturan keras dari ketinggian yang tak dapat kujamah.

Kemudian terang—bukan terang lilin. Terang yang amat sangat. Terang yang kurindukan, dan itu adalah pertanda aku bukan lagi bagian dari kegelapan. Mataku berkedip-kedip menyambutnya, tak terbiasa dan sembab oleh air mata. Kurasakan tangan-tangan menjamah tubuhku, salah satunya meraihku dan meletakkanku dalam gendongannya. Kedua tangan itu adalah milik seorang laki-laki berseragam hijau, tubuhnya bersimbah keringat, dan dia menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Lebih banyak sosok-sosok berseragam serupa mendatangi kami, dan lebih banyak lagi menghampiri tempatku diangkat dari balik kegelapan. Kemudian aku melihatnya—wanita itu. Senyum masih tersia di wajahnya yang pucat dan ternoda merah. Aku menangis dan menjerit, menjulurkan tangan menginginkannya, sebab aku tahu kali ini dia akan terbangun di bawah sorot cahaya yang sama-sama kami nantikan… Tapi mereka bergegas membawanya pergi dariku. Aku pun hanya meratap menyaksikan kepergiannya. “Lihat ini,” salah seorang pria mendekati pria yang menggendongku. Di telapak tangannya, tak lain tak bukan adalah benda itu, yang berpendar ketika kami masih berada dalam kegelapan dan kepada siapa wanita itu terpekur sebelum ia meninggalkanku…

Pria yang menggendongku mengambilnya dengan tangannya yang bebas, memperhatikannya dengan dahi berkerut, kemudian dua butir air mata bermunculan dari sudut-sudut matanya. Dia memelukku erat, menangis bersamaku tanpa kata-kata.

_________

Beberapa tahun berlalu, dan kini aku dapat berjalan dengan kedua kakiku sendiri. Kembali, ke tempat ini. Tempat ini berubah, tentu saja. Pemerintah telah terus berupaya untuk membangun kembali kota ini semenjak gempa beberapa tahun lalu. Dan tempat kenangan yang ditunjukkan oleh paman yang baik hati itu kepadaku, adalah sebatang pohon meihua yang bunganya tengah mekar dan berguguran tertiup angin musim semi. Aku merogoh sakuku dan menemukannya—ponsel itu. Ponsel yang menyimpan pesan terakhir wanita itu sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya, dengan punggung menyangga reruntuhan. Melindungiku, dan meninggal dalam prosesnya. Tentu saja aku masih menyimpan pesannya; bahkan pesan itulah yang menjagaku tetap hidup, dan terus mencintai hidup itu hingga saat ini.

“Anakku yang terkasih, aku harap pengorbananku ini akan menjagamu agar kamu tetap hidup. Dan jika kamu berhasil selamat, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu.”

Aku tersenyum, mengatupkan kedua tanganku dan menundukkan kepalaku, memejamkan mata. Terima kasih telah melahirkanku. Aku pun akan terus mencintaimu sepanjang hidupku… mama. END


~ by deembem on December 17, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: