~bakrie vs hostile take over ???

~lagi dikantor, jam kerja, ga ada kerjaan *teteup..hehe…berlatarbelakang satu pertanyaan “knp ini komputer kebakaran, gara2 semua harga saham melorot”, ada salah satu rekan kerja yang membuat satu opini yg menurut saya bagus..(saya sendiri yg notabene bukan org ekonomi n otaknya jarang bgt diasah ga akan bisa membuat opini seperti itu)…ya drpd opini ini sayang banget kalo cuman dibaca dy sendiri sama saya, atau beberapa klien…berbekal surat ijin memposting dri si empunya opini, sok baca deh opini berikut:

BAKRIE VS HOSTILE TAKE OVER ???

by Irwan Buniardi (Sales & Branch Manager PT. Reliance Securities, Tbk Kantor Perwakilan Jakarta Panglima Polim)

Ada suatu pemikiran yang menggelitik hingga saya tertarik untuk menyampaikan pendapat pribadi saya ini, siapa tahu ada yang berminat untuk mendiskusikannya lebih lanjut dengan saya nantinya. Sebuah pemikiran tentang pergerakan saham-saham grup Bakrie beberapa hari terakhir di bursa.

Seperti kita lihat bersama pada hari Rabu ini (28/10/2009), saham-saham grup Bakrie kembali memotori penurunan Ihsg, sampai penutupan sesi 1 tadi beberapa saham grup ini sebut saja BNBR ditutup turun 6.7%, Bumi turun 5.8%, ENRG 14.03% dan ELTY turun 6.6%. Secara konglomerasi grup ini menyumbang prosentase penurunan terbesar yang secara tidak langsung sangat mungkin menyebabkan terjadinya margin call dan para investor yang tidak bisa menginject dana lagi terpaksa menjual saham-saham lain di portfolio mereka untuk mendapatkan cash. Margin call sangat mungkin terjadi karena dari data yang ada menunjukkan bahwa foreign hanya membukukan penjualan bersih kurang dari 100 miliar pada paruh pertama tadi, tidak signifikan.

Lalu timbullah pertanyaan seperti sampai ke berapa BUMI akan ditekan? Sampai sejauh mana IHSG akan drop? Mengapa saham-saham grup Bakrie terus ditekan? Menurut pemikiran simple saya begini : IHSG akan berhenti drop jika BUMI dan grup Bakrie lain berhenti ditekan (mengingat grup ini merupakan motor IHSG). Lanjut ke pertanyaan berikutnya, mengapa grup ini terus ditekan? Menurut saya jawabannya ini adalah semacam cornering yang menjurus pada hostile takeover. Saya merasa bahwa ada pergerakan menekan ke bawah saham-saham ini yang bertujuan memaksa agar keluarga Bakrie melakukan top-up di repo mereka. Dampaknya jika mereka melakukan top up dan nantinya terjadi gagal bayar maka kepemilikan mereka di perusahaan akan terdilusi, hal ini tentu tidak diinginkan oleh pihak keluarga.

Beberapa hari lalu terdengar rumor bahwa BNBR akan melakukan right issue atau menerbitkan convertible bonds. Bila hal ini benar, maka ada 2 kesimpulan yang bisa ditarik, perusahaan tengah membutuhkan likuiditas, dan ke-2 keluarga tidak menginginkan persentase kepemilikannya terdilusi (sama dengan paragraf diatas). Masalah likuiditas ini bila ditarik benang merahnya bisa terhubung dengan repo-repo mereka. Jadi, mungkinkah bahwa penurunan saham grup ini berkaitan dengan sebuah skenario besar bahwa diujung kisahnya akan terjadi hostile takeover?

Bagaimanapun seperti yang kita dengar di sebuah iklan televisi, di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Bila kita melihat masalah ini dari kacamata gelas yang half full bukan half empty, kita akan melihat bahwa ada pihak-pihak yang ternyata sangat menginginkan aset grup ini. Bagaimana ndak ngiler coba jika saat ini terdapat kesempatan mencaplok perusahaan batubara terbesar republik tercinta ini, lalu perusahaan properti yang asetnya terpampang jelas di samping rute busway Kuningan? Mereka pastilah sependapat bahwa prospek perusahaan-perusahaan ini masih baik sejalan dengan growth Indonesia yang dicanangkan bisa terus bertumbuh dan bertambah positif, asalkan permasalahan-permasalahan seperti misalnya jajaran manajemennya dirombak total, “kabinet” direksi diisi oleh lebih banyak tenaga profesional yang independen dari intervensi pihak keluarga, kebijakan hutang tinggi diminimalisir, dan aspek-aspek lain-lain seperti image dibenahi secara menyeluruh.

Secara teknikal, saya melihat bahwa saat ini masih ibaratnya babak penyisihan kalau dalam sepak bola, babak final khususnya untuk BUMI sebagai mahkota grup ini diperkirakan akan terjadi di sekitar harga Rp 2250, disinilah perang besar sesungguhnya akan tersaji. Bila penjaga tuan rumah “Bakrie FC” tidak dapat mempertahankan gawangnya, bisa jadi “klub” ini akan kehilangan sebagian besar asetnya ke pihak lawan. Kembali lagi, ini hanyalah sebuah pendapat pribadi yang jelas debatable, sebuah intermezzo untuk anda, para investor saham yang bisa jadi di waktu makan siang ini, masih belum berselera makan.

~ by deembem on October 28, 2009.

2 Responses to “~bakrie vs hostile take over ???”

  1. ~what is repo?? ini pertanyaan yg saya ajukan sesaat setelah saya membaca opini di atas?? n si empunya opini jelasin kalo repo semacam gadai…jadi jika harga suatu saham semakin turun, maka kita harus top up yg bahasa hutannya *maksudte bahasa gampangnya menambah jaminan…mungkin bisa disamakan dengan kalo mo telpon ga da pulsa musti top up pulsa???begitukah????pizzzz \m/

  2. wew…. hellow there… dont think too much but stock… we live in Indonesia… and in this country… stock stuck seenak udele dewe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: